Dengan membaca, wawasan anda bertambah. dan menulis adalah sebuah stimulus agar eksistensi anda bisa dirasakan oleh banyak orang.

Blogroll

Minggu, 08 April 2018

Lintas Intuisi




           Terlintas di jalan pikiranku tentang dia yang selalu menjaga mata, setia menjaga hatinya hanya di pruntukkan untukku. Dia adalah manifestasi dari diriku yang di ciptakan Tuhan untukku. Pernah aku berkata kepadanya, untuk menjaga kekokohan sebuah hubungan itu harus didasari oleh sebuah kepercayaan, rasa percaya antara satu sama lain.

Ku tau ini semua belum pasti, butuh ikhtiar untuk memastikan agar menjadi pasti, walau jarak menjadi penghalang, ku berharap penghalang ini menjadi saksi atas keharmonisan sebuah hubungan, jangan di peruncing lalu jadi masalah hingga membuat hubungan terpecah belah.

Yang manis mengajarkan kita tentang rasa manis, yang pahit mengajarkan kita tentang rasa pahit, jarak mengajarkan kita tentang rasa rindu, sementara CINTA mengajarkan kita tentang keseluruhan rasa. Dengan belajar merawat CINTA secara tidak sadar kita belajar mencicipi keseluruhan rasa dari rasa manis, rasa pahit, rindu, sakit, sayang, kecewa semua di campur adukkan dalam CINTA.

Ketika mata dan logika saling berdialog tentang sebuah rasa dan tidak menemukan benang merah dari dialog tersebut maka di perlukan peran HATI dalam mengayomi ke dua-duanya agar tidak menjadi konflik yang menghilangkan esensi dari salah satu diantaranya.
Kini teriakan tak lagi mengeluarkan suara, Cinta tak lagi memiliki esensi Rindu tak lagi ingin bertemu,,,  nanti akan ku perjelaskan semuanya jika sudah jelas jelasnya.




Malang, 07/04/2018

Share:

Kamis, 05 April 2018

Menikmati sepertiga malam


By : KR


             Menyusuri jalan setapak yang minim cahaya ini adalah hal biasa bagiku. Tetapi entah kenapa malam ini terasa mencekam dibanding malam yang lalu. Ada hal yang aneh. Sungguh aneh.
Biasanya Melintasi jembatan yang biasanya nemuin kucing sekarang nemuin 3 anjing yang berbeda warna. Orang yang biasa terlihat masuk ke dalam mobil belum terlihat. Dan bapak paruh baya yg masih duduk di beranda rumah, dengan batuknya. Udara dingin malam jelas menusuk.

Tapi bapak paruh baya masih asik duduk dengan singelet dan celana pendek. Ini sedikit mengganjal. Namun coba dibiarkan. Mesin motor telah dimatikan. Cek token listrik dan ternyata sisa saldo pulsa listrik 0.26. Suara batuk bapak paru baya tadi terdengar lagi. Mencoba menegarkan hati. Mata ini sedikit rabun,  karna minus 1 dan 0.5 silinder.  Tas mulai dirogoh untuk mengambil kunci pintu. Mulai membuka pintu dengan mengucap salam sembari mendorong motor masuk ke dalam rumah. Bapak paruh baya masih pada posisi semula. Dengan seksama melihat ke arah rumah ini,  tepat memperhatikan. Walau penglihatan rada samar tapi perasaan tetap was-was,  namun coba biarkan.

Ketika masuk kedalam, tutup pintu kunci dan grandel, sembari mengintip di balik tirai jendela. Bapak paru baya dengan singelet dan celana pendek masih pada posisi awal.  Bapak paru baya dengan rambut putihnya. Token listrik berbunyi keras,  menambah suasana rumah yang gelap semakin riuh. Berjalan melalui lorong menuju kamar untuk menyalakan lampu.  Seketika suara aneh mulai terdengar. Biasa sendiri. Sekarang pun sama,  namun ada hal yang mengganjal sebagai pembeda. Setelahnya, mulai merogoh tas lagi, untuk mengambil hp. Lampu kamar emang kadang - kadang.

Bila sendiri tak mau menyala,  kalo ada orang lain menyala dengan sendiri. Duduk termanggu di atas pulau kapuk,  sembari menanyakan kabar seorang teman perempuan yang apakah telah sampai pada tujuannya? . Kemudian mulai membuat status di wa atas kejadian yang mengganjal. Namun setiap orang pasti menangkap segala hal dengan berbeda pula kan?.  Ada yang berkomentar menarik,  keren dan tulislah biar dapat dilihat.  Ada yang menyarankan mendengarkan instrumen, namun memilih mendengar suara mama, beliau sudah terlelap karna ini telah larut. Kalo begitu besok saja.

Malam kian mencekam,  padahal baru saja pukul 23.38 WIB. Keluar dari lingkup kampus, kemudian mengantar teman pulang. Sebelum sampai tempat tujuan,  mampir sebentar di warung bu marni. Laper,  kata teman. Menemukan hal baru, betapa asiknya sekumpulan penyandang disabilitas dalam satu meja berdiskusi menggunakan bahasa isyarat. Yang mana syarat utamanya yakni saling melihat lawan bicara. Pemandangan yang jarang terlihat akhir-akhir ini. Bahwa handphone lebih menarik dilihat ketimbang lawan bicara.  Semoga masih bisa bersosialisasi batin ini mulai berkata. Tak pelak,  kelar sudah makan-makan dengan diskursus, bayar dan keluar dari tempat makan.  Tak menyangka bertemu dengan senior sejurusan,  fikir beliau sendiri ternyata dengan senior yang lain menunggu di dalam mobil nyatanya.  Mulai melambaikan tangan dan mengucapkan kata sampai jumpa.

Perjalanan pun dilanjutkan. Teman telah sampai pada tujuan. Sedangkan diri ini pamit undur diri dengan akhir jabat tangan. Sepanjang perjalanan pulang tak ada yang aneh.  Jalan yang biasa dilewati pun begitu,  bedanya kali ini warung kopi di sebelah lapangan tempat lokasi IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)  yang ada kandang kelincinya buka,  dan ramai pengunjung. Iklim udara serasa lembab,  lebih dingin dan menusuk,  ditemani kabut,  melintasi dua orang bapak-bapak yang duduk dipinggir jalan menggenakan pakaian hitam. Mulai membuka gerbang rumah. Kemudian merogoh ransel dengan sesekali melihat ke arah beranda tempat bapak paruh baya tempo hari. Namun nampaknya beliau tidak ada. Seseorang yang selalu masuk ke dalam mobilnya nampak hari ini. Dengan segerombolan pemuda dari arah barat rumah. Difikiran ini mungkin itu temannya.  Namun dilihat samar-samar bukan. Mereka segerombolan pemuda yang tengah mabuk.

Tanpa fikir panjang bergegas kunci yang kurogoh kucoba masukkan dalam lubang kunci diganggang pintu. Taukah apa yang terjadi?  Penyakit pintu rumah kumat,  ya penyakit susah untuk dibuka disaat yang kurang tepat.  Ketika terbuka tanpa fikir panjang motor langsung dimasukkan tak peduli masih nyala atau tidak, hingga kaki kesandung sendal yang tak tentu tempatnya tak peduli. Masuk ke dalam gerandel pintu dan kunci. Dalam gelapnya rumah seperti biasa, berdiri dekat tirai jendela mengintip dengan perasaan was-was dan helm yang masih di kepala. Pemuda pemabuk dengan segerombolannya tadi berdiri mengawasi tepat di depan rumah dan berbicara dengan bahasa jawa. Seketika rasa cemas mulai menjadi.

Namun coba menenangkan diri,  malam ini mengungsi dikamar teman kontrakkan. Karna lampu kamar masih dengan penyakitnya. Menelusuri lorong menuju rak untuk menaruh sendal dan melepas kaos kaki. Dan masuk ke toilet untuk BAK.  Selepas itu menuju kamar menyalakan lampu dan merogoh tas untuk mengambil hp.  Mengabari bahwa telah sampai rumah.  Mulai melepas aksesoris seperti jam tangan dan gelang.  Namun ada yang aneh.  Jam telah di lepaskan.  Ketika hendak membuka gelang seketika penasaran ingin melihat keadaan diluar.  Menuju lorong dengan tangan berusaha melepas gelang. Berhamburan,  lepas tak terelakkan. Seperti sebuah kelereng yang terhambur.  Barulah tersadar,  mungkin buang sial batin ini mengucap. Tapi bisa jadi kemungkinan buruk. Teringat pada gerak -gerik pemuda pemabuk yang mengintai rumah.  Mulai ambil hp menelfon cici. Kronologi. Sahril mengantar hingga rumah cici. Sampai tujuan cici menyambut dengan pelukan dan dekapan hangat dengan rasa cemas dan was-was.  Syukurlah
Begitulah sepenggal realita dan rutinitas dan akhirnya terjadi dalam bacaan ini.


Malang, 30/03/2018
Share:

Minggu, 18 Maret 2018

Pilu yang terpilupilukan





             Eksistensi rasa membuatku tak lagi merasa, bukan lantaran mati rasa. Tapi aku lebih memilih mengasingkan diri agar tidak menjadi dinamika dan membuat luka.
Berpijak pada pijakan yang rapuh membuat ku pilu dan terganggu, tak ada sepeserpun yang mengerti tentang hal ini, berharap kepastian namun tak pasti, berharap datang namun pergi, berjanji namun mengingkari, berharap sejahtera namun sengsara, mungkin ini yang dinamakan pilu yang kepilupiluan.

Ternyata ini lebih berat ketimbang rindu, semua akan menjadi dilema ketika keseluruhan rasa mulai merasakan sakit. Aku tak bisa mengelak mungkin lantaran keterbatasanku, atau aku yang terlalu memanjakan keadaan, sehingga membuatku terbelenggu.

Berdiam diri dalam kekosongan, tertusuk oleh angan dalam singgasana yang berpajangan ilusi ilusi liar,  berharap ada kepastian untuk menunjang elastisitas diri namun semuanya menjadi hal yang tak pasti. Mengonsumsi imajinasi agar dapat mengenyangkan hati, andai saja semua ini bisa di sugesti mungkin segerombolan kesejahteraan menghampiri.

Kini tak lagi ku butuh, semua tak pengaruh
Percuma. Andai kau rasa menjadi aku.
Setiap siklus mengonsumsi sakit yang menyakitkan,  ini bukan tentang hati atau kasmaran,  tapi ini tentang perjuangan memperjuangkan  hal hal konyol yang ku rasa. Ku buang semua keluhanku dalam bentuk kata-kata dan akan ku poles agar menjadi bermakna.  Jika ini merupakan dinamika akan ku ubah menjadi sajak aksara dan akan ku tayangkan melalui media masa.

Berbaring mingring di atas singgasana yang begitu empuk, mengkolaborasikan jari dan otak agar menjadi diksi dan akan ku prediksi melalui intusi. Semoga nanti pilu ini di jemput oleh angin, di basahkan oleh hujan, di terangi oleh cahaya, di kuatkan oleh energi, yah semoga saja. Menahan dan menahan adalah kegiatan yang sangat membosankan bahkan menyebalkan, ingin ku musnahkan segala hal yang menghalangiku untuk ber intuisi,tapi ku pikir biarlah sudah, biar jadi bumbu dalam ku ber intuisi.

Tung,tung,tung suara kendaraan tak bermotor yang melintas di depan teras rumah membawa sekumpulan energi yang siap di santap, namun aku lupa, bahwa lupa menjadi alat untuk menghilangkan rasa sakit,  ini bisa benar bisa salah tergantung anda dalam mentraktir rasa.



Malang, 18/03/2018

Share:

Selasa, 13 Maret 2018

Puisi untuk birokrasi yang lupa diri



bang_candra95

Kita MAHAsiswa ,,, kini berada pada zona dimana sistem membunuh kita secara perlahan, yang kaya menganggap ini biasa biasa saja, tapi bagaimana dengan yang kurang mampu wahai birokrasiku.  PIKIR ?????.

Kita MAHAsiswa,,, secara tidak sadar di perbudak oleh sistem yang membabi buta, birokrasi melihat tak pakai mata, mendengar tak pakai telinga, Mungkin karena kita dianggap sebagai bocah ingusan yang tak tau apa apa, tapi, inilah kita MAHAsiswa.

Kita MAHAsiswa,,, hari ini, di depan birokrasi ku coba berpuisi, puisi tentang birokrasi yang selalu membatasi hak asasi.Katanya, birokrasi adalah penyambung lidah MAHAsiswa untuk menyelsaikan studinya, tapi kenapa, belakangan ini kita sering mendengar keluhan kesal dari kawan kawan MAHAsiswa tentang birokrasi. KENAPA ???

Kita MAHAsiswa,,, masih saja bertanya tanya anggaran hilang kemana, katanya pembangunan tapiii mana ???
Dari tahun ke-tahun rupiah melambung tinggi ke-angkasa bagaikan pesawat tempur yang siap menggempur dompet-dompet orang tua kita.

Kita MAHAsiswa,,, butuh bukti bukan janji janji wahai para birokrasi, apakah kau buta, apakah kau tulih, melihat penomena yang terjadi silih berganti disini di tengah terik matahari kita berdiri, berdiri hanya untuk menyampaikan anspirasi untuk
kau realisasi.




Malang, 13/03/2018

Share:

Kamis, 08 Maret 2018

HANYA TULISAN TAK MENGANDUNG MAKNA



Siklus waktu berjalan begitu cepatnya, secara tidak sadar yang dekatpun mulai menhghilang. Aku yang tertikam sunyi dalam kekosongan terpenjara dalam angan, angan yang begitu ambisi namun belum sempat kurealisasi, bukan lantaran tak punya aksi untuk realisasi, tapi aku lebih memilih tradisi ngopi dan berdiskusi agar imajinasi tak menjadi basi.

Semua hal tentang segala hal adalah ilmu namun tidak banyak orang yang mengetahuinya,
mungkin lantaran sifat kehedonismean yang membabibuta. Kucoba paksakan imajinasi berdiskusi dengan intuisi dan mengonsep ilustrasi agar dapat menjadi diksi dan akan ku promosi melalui 
bait bait puisi yang dapat kau nikmati dalam kenyamananmu nanti.

Mungkin anda menganggapnya, ini suatu hal yang sangat bodoh, iyaaah,, anggapan anda benar.
Aku hanyalah insan yang sangat kurang dalam segala hal, dengan kekuranganku dan kebodohanku menjadi saksi bisu bahwa inilah aku.

Bersajak tentang jejak diri yang di diskriminasi oleh sang waktu. Inilah aku,, yang hanya bisa menyelipkan keluhan dalam bait bait puisi.Inilah aku,, yang secara diam diam diperbudak oleh sajak sajak.Inilah aku,, yang selalu bercerita memalui prantara aksara. Inilah aku,, yang memanfaatkan sastra sebagai ladang dalam berkarya bagiku ke-semuanya itu hanyalah hobi yang ter-asupi seni.



Malang, 05/03/2018
Share:

Tentang ayah








Malam ini, lagi lagi kuperintahkan tangan ini untuk menulis tentangmu dalam sebuah wadah kertas putih polos.

Ayah,,,, 

Apa kabar, aku berharap mudah mudahan engkau selalu dalam lindungan yang maha pelindung, dalam diam ku merindu, rindu akan canda tawamu, rindu akan marahmu,rindu akan segala hal tentangmu.

Entah mengapa, penyakit yang mengatas-namakan rindu, lagi lagi menyerangku.
Ingin ku obati penyakit ini melalui sebuah pertemuan, tapi apalah dayaku yang hanya bisa menyelipkan berbait bait doa untukmu 
di waktu sholatku.

Ayah,,,,

Terimakasih sudah selalu setia mengajariku tentang susahnya mencari nafkah.
Terimakasi juga sudah selalu mengajariku tentang problematika kehidupan walau, ku tau tidak dengan kata terimakasih untuk membalasnya, tapi untuk saat ini hanya dengan kata terimakasi yang menjadi perwakilan syukurku kepadamu.

Ayah,,,,,

Maaf jika sampai saat ini aku belum bisa membahagiakanmu, maaf jika selama ini aku selalu membuatmu marah, yang jelas membahagiakanmu adalah visi misi utamaku.





Malang,06/02/2018 



Share:

Senin, 12 Februari 2018

Penikmat uang rakyat


bang_candra95

             Pertiwiku sangat kekurangan vitamin dalam angka kesejahtraan. Politik di jadikan senjata untuk menumbangkan kesejahtraan. Sungguh malang nasib pertiwiku, rakyat kecil berduka cita atas meningalnya kesejahtraan. Perjalanan kita masih panjang kawan, masih banyak hal hal yang harus kita kritisi dan realisasi, masih banyak yang harus kita siapkan untuk menumbangkan bangsat bangsat di atas bumi ibu pertiwi.

Cuaca demokrasi menjadi mendung dan tak bersinar lagi. Kini para politikus mulai muncul di permukaan,penampilan macam kaktus dengan sangat rakus membungkus uang rakyat.Katanya, keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, tapi nyatanya hanya sebagian orang yang merasa. Tikus-tikus berdasi, mulai mengurasi tanpa antisipasi,berlaga demokrasi, namun membatasi hak asasi.

Bersajak tentang jejak penghianat yang di laknat, mengkonsumsi uang rakyat tanpa melihat. Kau memang pandai dalam segala lini tapi pintaku, jangan kau jadikan Moral sebagai bumbu lelucon. Moral tidak sebercanda itu. Kau berlaga aktivis, namun apatis kau berlaga eksekutif, namun tidak efektif ngakunya solutif, tapi tidak kereatif.


Kau banyak beretorika, namun tidak punya etika. Kau cerdas, namun kau kurang cerdik. Di hadapan rakyat kau kelihatan baik, namun nyatanya di belakang, kau sangat licik dan munafik.Melirik penuh dengan interik, bagikan suara jangkrik. Si tikus tengik dengan mata picik, mulai tertarik, menarik hingga mencekik. Si tikus tengik naik motor, menuju kantor berlaga seperti orator, namun nyatanya kau koruptor, memang kau manusia kotor.



Malang,12/02/2018


Share:

Blogroll

Welcome text

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.

SUDAH MERDEKAKAH KITA ?

D engan sedikit membuka mata,  coba lihatlah kondisi Negara kita saat ini, silahkan di cermati, bahwa begitu banyak kepincangan bahkan kekac...

jumlah pengunjung

Cari Blog Ini

BTemplates.com

artikel